PESISIR SELATAN, HANTARAN.Co — Jembatan gantung yang menghubungkan Tanjung Medan, Muaro Sakai, Kecamatan Pancung Soal, dengan Teluk Kualo Inderapura, Kecamatan Airpura, kembali mengalami kerusakan. Kondisi ini memicu keprihatinan publik, lantaran jembatan tersebut baru beberapa bulan lalu selesai direhabilitasi menggunakan anggaran ratusan juta rupiah.
Kerusakan dini pada jembatan penghubung dua kecamatan itu diduga kuat akibat pelanggaran batas beban kendaraan yang melintas. Padahal, jembatan gantung tersebut hanya dirancang untuk menahan beban maksimal 1,5 ton.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Pesisir Selatan, Fahresi Eka Siska, mengungkapkan bahwa setiap hari jembatan tersebut dilalui kendaraan bermuatan berat, seperti mobil pengangkut tandan buah sawit dan material bangunan.
Baca juga : Mahasiswa KKN Unand Gelar Medical Check Up Gratis dan Edukasi PTM di Nagari Durian Tinggi
“Jembatan itu hanya mampu menahan beban hingga 1,5 ton. Namun realitanya, hampir setiap hari dilewati kendaraan bermuatan berat. Ini yang menyebabkan kerusakan terjadi jauh lebih cepat dari usia teknisnya,” ujar Eka, Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, proyek rehabilitasi jembatan yang rampung beberapa bulan lalu menelan anggaran sekitar Rp530 juta. Namun, keterbatasan dana membuat perbaikan yang dilakukan belum bersifat permanen dan menyeluruh.
“Dengan anggaran yang ada, tidak semua komponen bisa diganti. Sebagian plat lama masih harus digunakan agar panjang jembatan tetap bisa tertutup seluruhnya. Kalau seluruhnya diganti, pekerjaan tidak akan selesai sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Over Tonase Jadi Biang Kerok, Jembatan
Menurut Eka, secara ideal akses penghubung antara Pancung Soal dan Airpura sudah selayaknya dibangun menggunakan jembatan permanen. Hal itu mengingat tingginya mobilitas masyarakat, serta peran strategis jalur tersebut dalam menunjang aktivitas ekonomi antarwilayah.
Namun hingga saat ini, kemampuan keuangan daerah masih terbatas. Pemerintah daerah, kata dia, baru bisa melakukan pemeliharaan darurat dengan memanfaatkan besi dan plat sebagai solusi sementara.
“Kami terus berupaya mengusulkan anggaran lanjutan agar jembatan ini bisa diperbaiki dengan lebih layak dan tahan lama,” ucapnya.
Meski demikian, Eka menegaskan bahwa sekuat apa pun konstruksi jembatan, daya tahannya tetap sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam mematuhi batas muatan.
“Kami berharap masyarakat bisa ikut mengawasi dan membatasi kendaraan yang melintas. Kalau terus dilanggar dan muatan melebihi kapasitas, jembatan ini hampir bisa dipastikan akan kembali rusak dalam hitungan bulan,” tuturnya.
Kondisi jembatan gantung ini menjadi pengingat pentingnya disiplin berlalu lintas dan pengawasan bersama, agar infrastruktur yang dibangun dengan dana publik dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. (h/kis)






