Sejak gempa besar tahun 2004, rumah tersebut tidak pernah diperbaiki secara menyeluruh. Retakan demi retakan dibiarkan, kayu-kayu penyangga kian lapuk, dan sebagian dinding di bagian depan serta samping bahkan sudah roboh. Yang tersisa hanyalah keteguhan Indra untuk tetap bertahan, menjaga rumah peninggalan keluarga, sekaligus menjaga ibunya yang kian renta.
Di usia 76 tahun, Nuraini tidak meminta banyak. Ia tidak menuntut rumah mewah atau fasilitas berlebihan. Ia hanya ingin tempat berteduh yang aman, rumah yang tidak bocor, tidak retak, dan tidak mengancam keselamatan dirinya dan anak-anaknya.
Kisah Nuraini adalah potret sunyi dari wajah kemiskinan di Pesisir Selatan, warga kecil yang sudah mengikuti prosedur, melengkapi syarat, dan menunggu dengan sabar, namun tetap luput dari sentuhan bantuan pemerintah. Di balik angka-angka program dan laporan administrasi, ada manusia yang hidup dalam ketidakpastian, menua bersama rumah yang nyaris roboh.
Di Kampung Pasar Amping Parak, rumah reyot itu masih berdiri. Bukan karena kuat bertahan, melainkan karena belum ada pilihan lain. Ia menjadi saksi bisu bahwa di tengah berbagai program bantuan perumahan, masih ada warga yang menunggu terlalu lama untuk sekadar hidup dengan layak dan aman. Semoga. (h/kis)






