Sementara komponen lain yang mengalami pertumbuhan yaitu komponen Ekspor Luar Negeri yang mengalami pertumbuhan sebesar 17,16 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) yang mengalami pertumbuhan sebesar 3,28 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mengalami pertumbuhan sebesar 1,65 persen.
Adapun komponen yang mengalami kontraksi yaitu komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 2,13 persen, dan komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 1,83 persen.
Lebih jauh Nurul mengatakan, struktur PDRB Sumbar menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Sumbar masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 22,12 persen; diikuti oleh Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 16,65 persen; Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 10,68 persen; Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 9,47 persen; dan Lapangan Usaha Industri Pengolahan 8,55 persen. “Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumbar mencapai 67,47 persen,” katanya.
Perlambatan Ekonomi karena Faktor Strutural
Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumbar ini tidak bisa hanya dilihat sebagai dampak tunggal melemahnya konsumsi masyarakat. Menurutnya, ada persoalan struktural yang lebih dalam.
“Penurunan pertumbuhan ekonomi Sumbar bukan disebabkan satu faktor saja. Konsumsi rumah tangga memang melemah, terutama di kelompok menengah-bawah, karena pendapatan mereka tergerus inflasi pangan, biaya pendidikan, serta beban cicilan pascapandemi. Jadi, ini bukan hanya soal masyarakat enggan berbelanja, tetapi ruang belanja mereka yang makin sempit,” ujar Ronny kepada Haluan, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama PDRB Sumbar tidak diimbangi oleh kinerja sektor unggulan. Sektor pertanian dinilai stagnan dengan produktivitas yang rendah, ditambah cuaca ekstrem yang berulang. Sementara sektor perdagangan dan pariwisata belum sepenuhnya pulih secara kualitas.
“Pariwisata memang ramai, tapi belanja per wisatawan masih kecil. Di sisi lain, industri pengolahan di Sumbar masih terlalu kecil untuk berperan sebagai mesin pertumbuhan. Akibatnya, Sumbar tidak memiliki sektor penarik yang benar-benar kuat,” kata Peneliti Senior Tamu pada CIDS University of Philippines itu.






