Dedikasi tersebut membuahkan hasil. Renang Sumbar bangkit, melahirkan atlet-atlet nasional seperti Harizal dan Yosita Hapsari yang menyumbangkan emas dan mengangkat marwah daerah.
Ketua Kontingen PON XIX/2016
Kepercayaan besar kembali diberikan saat Budi Syukur ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Sumatera Barat pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Dengan kepemimpinan yang tenang dan sistem kerja rapi, kontingen Sumbar meraih 14 emas, 10 perak, dan 20 perunggu, menempati peringkat 11 nasional. Capaian ini melampaui hasil PON XVIII/2012 di Riau. Banyak pelatih dan ofisial menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari stabilitas psikologis kontingen yang terjaga berkat kehadiran dan kepemimpinan Budi Syukur.
Filosofi Mengalir Tanpa Resah
“Saya jalani dengan menikmati proses tanpa resah. Semangat mereka seperti darah segar yang terus mengaliri tubuh saya,” ujar Budi Syukur kala itu.
Bagi Budi Syukur, olahraga bukan semata soal medali, melainkan pembentukan karakter, ketahanan mental, dan kesinambungan sistem. Ia hadir bukan hanya sebagai ketua, tetapi sebagai penenang, pengarah, dan penjaga kultur organisasi.
Warisan terbesarnya bukan jabatan, melainkan nilai: pembinaan jangka panjang, hubungan emosional yang kuat, sistem yang tetap hidup, serta generasi atlet dan pelatih yang tumbuh dalam disiplin.
Pengabdian yang dicatat dalam hati tidak banyak tokoh yang namanya tetap hidup setelah masa jabatan berakhir. Namun Sengaja Budi Syukur adalah pengecualian. Namanya masih disebut di lintasan lari, di kolam renang, di ruang rapat, hingga di hati mereka yang pernah dibimbingnya.
Ia bukan hanya tokoh olahraga. Ia adalah pembina, pemimpin, dan pelayan masyarakat. Pengabdian yang ia jalani dalam diam justru menghadirkan gema paling panjang.
Dan pada puncak HPN 2026, sehari setelah hari kelahirannya, SIWO PWI Pusat menorehkan namanya dalam daftar tokoh nasional penerima penghargaan tertinggi.
Selamat, Sengaja Budi Syukur.
Pengabdianmu bukan sekadar dikenang, tetapi terus hidup.(h/kis)






