Jati Diri Bangsa Hakikat Pendidikan
Mengingat kembali jati diri bangsa berarti mengingat kembali hakikat pendidikan itu sendiri. Bahwa pendidikan adalah jembatan antara pengetahuan dan kebijaksanaan, antara kecerdasan dan nurani, antara kemampuan dan tanggung jawab.
Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter kuat, beretika, dan memiliki kepedulian sosial. Tanpa karakter, kecerdasan dapat kehilangan arah; tanpa nilai, kemajuan dapat berubah menjadi kehampaan.
Pada akhirnya, tugas mulia seorang dosen tenaga pendidik tidak pernah berhenti pada ruang kuliah, daftar hadir, atau lembar penilaian. Ia berlanjut dalam sikap hidup, dalam keteladanan yang diam-diam ditiru, dalam kata yang menuntun, dan dalam diam yang mengajarkan kebijaksanaan.
Dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan nurani untuk menyalakan api pengetahuan sekaligus menjaga nyala nilai. Di tangan para pendidiklah masa depan bangsa dirawat—bukan hanya agar generasi berikutnya lebih pintar dari kita, tetapi agar mereka juga lebih arif, lebih beradab, dan lebih manusiawi.
Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan seorang pendidik bukan semata berapa banyak ilmu yang diwariskan, melainkan berapa banyak karakter yang ditumbuhkan dan berapa banyak harapan yang tetap hidup di hati para muridnya. Di sanalah pengabdian menemukan maknanya, dan di sanalah jati diri bangsa terus dijaga melalui jalan sunyi kerja seorang pendidik. Semoga! (*)
Oleh:
Otong Rosadi
Dosen Politik Hukum dan Filsafat Hukum Unes Padang






