Ekonomi

Aset Perbankan Syariah Sumbar Tembus RP13,36 Triliun

0
×

Aset Perbankan Syariah Sumbar Tembus RP13,36 Triliun

Sebarkan artikel ini
Syariah

Padang, hantaran.Co–Sektor jasa keuangan di Sumatera Barat terus menunjukkan kinerja yang positif dan berperan penting dalam mendukung perekonomian daerah.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat mencatat, meskipun pertumbuhan ekonomi sedikit melandai, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga dengan baik.

Kepala OJK Sumatera Barat, Roni Nazra, menyampaikan bahwa kondisi tersebut ditopang oleh pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat. Pada triwulan IV-2025, PDRB Sumbar  secara tahunan (year on year/yoy) tumbuh sebesar 1,69 persen. Angka ini mencerminkan prospek pembangunan daerah yang berkelanjutan. “Total aset perbankan di Sumatera Barat pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp85,37 triliun, atau tumbuh 1,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Roni kepada awak media, Jumat (6/1/2026).

Baca Juga : Normalisasi Sungai dan Huntap Jadi Tuntutan Pascabanjir Pauh

Selain itu, penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan mencapai Rp73,86 triliun atau tumbuh 0,68 persen (yoy). Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp58,98 triliun, dengan pertumbuhan cukup baik yakni 5,09 persen (yoy).

Dari sisi risiko, kualitas kredit masih dalam kondisi terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) berada di level 2,67 persen, meskipun mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 2,10 persen.

Penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp31,06 triliun. Meski mengalami kontraksi sebesar 1,41 persen (yoy), kredit UMKM masih mendominasi dengan porsi 42,06 persen dari total kredit perbankan di Sumatera Barat. Menariknya, kinerja perbankan syariah justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Hingga Desember 2025, total aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp14,36 triliun atau tumbuh 10,58 persen (yoy). 

Baca Juga  Bank Nagari Cabang Syariah Padang Hadirkan Program Marandang

Penghimpunan DPK mencapai Rp11,20 triliun atau tumbuh 2,74 persen (yoy), sementara penyaluran pembiayaan meningkat signifikan sebesar 14,27 persen (yoy) menjadi Rp12,10 triliun. “Risiko pembiayaan perbankan syariah juga masih terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,75 persen, meskipun sedikit meningkat dari tahun sebelumnya,” jelas Roni.

Ia menambahkan, terdapat pergeseran minat masyarakat dari perbankan konvensional ke perbankan syariah. Salah satu faktor pendorongnya adalah pertumbuhan Unit Usaha Syariah Bank Nagari yang tumbuh lebih dari 12 persen, sejalan dengan arahan para pemegang saham untuk meningkatkan pengelolaan dana berbasis syariah.

Pelaku Jasa Keuangan Syariah Semakin Banyak

Selain itu, pengembangan Bank Syariah Nasional yang sebelumnya merupakan unit syariah dari Bank Tabungan Negara (BTN) juga turut memperkuat ekosistem perbankan syariah di daerah. “Kami berharap semakin banyak pelaku industri jasa keuangan syariah, sehingga manfaatnya bisa semakin dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah, juga menunjukkan pertumbuhan yang positif.  Hingga Desember 2025, total aset BPR mencapai Rp3,12 triliun atau tumbuh 11,35 persen (yoy). 

Penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp2,29 triliun atau tumbuh 9,44 persen (yoy), sedangkan penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp2,25 triliun atau tumbuh 7,61 persen (yoy). Sebanyak 71,39 persen dari pembiayaan tersebut disalurkan kepada sektor UMKM. Pasar Modal dan Industri  Keuangan Non-Bank Pada sektor pasar modal, jumlah investor terus mengalami peningkatan. Hingga Desember 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) di Sumatera Barat mencapai 291.030 investor atau tumbuh 48,68 persen (yoy). 

Baca Juga  Harga Pupuk Bersubsidi Turun, Pengawasan Diperketat

Dari jumlah tersebut, SID saham tercatat sebanyak 124.455 investor, SID reksa dana 275.780 investor, SID Surat Berharga Negara (SBN) 10.077 investor, serta SID Efek Beragunan Aset (EBA) sebanyak 3 investor. Sementara itu, industri keuangan non-bank juga menunjukkan kinerja yang cukup baik. 

Pada November 2025, perusahaan pembiayaan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp5,63 triliun atau tumbuh 3,23 persen (yoy), dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) sebesar 2,01 persen atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Fintech lending di Sumatera Barat juga terus tumbuh positif. Hingga Desember 2025, outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp1,57 triliun atau tumbuh 20,69 persen (yoy). 

Risiko pinjaman tetap terjaga dengan rasio TWP90 sebesar 1,88 persen. Jumlah pemberi pinjaman (lender) tercatat sebanyak 2.057 rekening, dengan jumlah peminjam aktif mencapai 408.031 rekening. Adapun Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga mencatat pertumbuhan yang menggembirakan.  Total aset LKM mencapai Rp7,07 miliar atau tumbuh 3,33 persen (yoy), dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp2,71 miliar atau tumbuh 13,92 persen (yoy).  Jumlah debitur eksisting tercatat sebanyak 947 debitur atau tumbuh 24,28 persen secara tahunan.