Opini

Tamparan di Wajah Bangsa di Tengah Erosi Kepedulian 

2
×

Tamparan di Wajah Bangsa di Tengah Erosi Kepedulian 

Sebarkan artikel ini
Tamparan

Perlu kita terapkan gagasan pengentasan kemiskinan dalam teori Ekonomi Kesejahteraan yang dicetuskan Amartya Sen, yang menggeser fokus kebijakan pembangunan dari pertumbuhan PDB ke perluasan kapasitas manusia. Sebab kemiskinan bukan hanya soal pendapatan rendah, tetapi hilangnya kemampuan dan kebebasan dasar yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. 

Meskipun pendapatan yang layak itu penting, itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Kalau masyarakat tak mampu mengubah pendapatan menjadi kemampuan aktual karena kondisi pribadi, sosial, atau lingkungan yang membatasinya, maka kemiskinan akan tetap ada — sebab kebebasan dasar setiap individu tidak terjamin.

Peraih Hadiah Nobel 1998 bidang ekonomi itu berpendapat bahwa masyarakat perlu mendapat kebebasan politik, kebebasan memperoleh fasilitas ekonomi, kesempatan sosial, jaminan transparansi, dan proteksi nasibnya, yang ketiadaannya akan tetap berkontribusi pada kemiskinan.

Karena itu, pemberdayaan individu diperlukan untuk membentuk kehidupan mereka sendiri, bukan hanya bertindak sebagai penerima bantuan. Maka untuk mengentaskan kemiskinan, perlu diperluas kebebasan dan pilihan-pilihan yang tersedia bagi masyarakat, yang pada gilirannya memacu pembangunan manusia.

Baca Juga  Ikhlas Bekerja, Epyardi jadi Bupati Solok Bukan Cari Materi

Saya berpendapat bahwa kemiskinan itu lebih dekat ke kekufuran. Keadaan ekonomi mereka yang berat itu bisa menguji integritas dan iman seseorang. Sebab, ujian bagi orang miskin adalah kesabaran dan harga diri, tapi ujian bagi orang kaya adalah kedermawanan, sebagai manifestasi nilai-nilai yang dianutnya.

Terjadinya kemiskinan adalah hasil dari sebuah sistem yang menghasilkan ketimpangan. Sistem demikian itu adalah bentuk kejahatan yang lebih buruk dari pada kekerasan, sebagaimana diungkapkan oleh Mahatma Gandhi: Poverty is the worst form of violence.

Tragedi YBR adalah bukti bahwa ada yang gagal dalam masyarakat kita, yang kehilangan nilai-nilai, dan kehilangan kepekaan. Sudah betul kita mengejar pertumbuhan 8%, tapi kalau tidak dibarengi pemerataan, sampai ada anak-anak di daerah yang tak mampu bersekolah, bahkan ada yang bunuh diri karena miskin, apa artinya semua keberhasilan itu?

Baca Juga  Saat Kewenangan Melenceng: Ancaman bagi Kepastian Hukum

Kematian YBR harus menjadi tragedi kemanusiaan terakhir akibat kelalaian semua pihak dan memudarnya kepedulian sosial di tengah gemerlap kemewahan hidup sebagian warga bangsa. Tapi yang mati bukan hanya seorang Yohanes Bastian Roja. Yang mati adalah kepekaan kita untuk memperhatikan kondisi sesungguhnya dari warga bangsa yang terpinggirkan dan terlupakan.

Selama mata hati kita masih buta, maka selama itu pula warga bangsa yang hidup dalam kondisi seperti keluarga YBR akan terus terlupakan. Pepatah Tiongkok kuno katakan: “Kemiskinan bukanlah sesuatu yang memalukan; kemiskinan hanya membuktikan kurangnya upaya untuk keluar dari situ.” Jadi, kalau masih ada kemiskinan di negeri ini, itu berarti negara belum cukup berupaya untuk keluarkan warganya dari situ. [*]  

Oleh IRMAN GUSMAN

Ketua DPD RI 2009-2016, Senator asal Sumatera Barat 2024-2029