Hukum

BIM Rawan Peredaran Narkoba, 2 Penyeludupan Diawal Tahun Digagalkab

0
×

BIM Rawan Peredaran Narkoba, 2 Penyeludupan Diawal Tahun Digagalkab

Sebarkan artikel ini

Padang, hantaran.Co–Bandara Internasional Minangkabau (BIM) masih menjadi salah satu titik rawan peredaran narkotika lintas wilayah di Sumatra Barat.

Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, aparat kepolisian bersama otoritas bandara dua kali menggagalkan penyelundupan sabu dalam jumlah besar melalui terminal keberangkatan BIM, Kabupaten Padang Pariaman.

Baca Juga : Sabu Seberat Hampir 8 Kg Diselundupkan Melalui BIM, Empat Orang Kurir Ditangkap

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumbar, Kombes Pol Wedi Mahadi mengungkapkan bahwa pengungkapan tersebut merupakan hasil koordinasi intensif antara Ditresnarkoba Polda Sumbar, Aviation Security (AVSeC) BIM, serta otoritas perhubungan udara.

Kasus pertama terjadi pada Senin, 12 Januari 2026, pukul 17.22 WIB. Saat itu, petugas mencurigai paket bawaan penumpang yang telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengelabui pemeriksaan X-Ray.

“Dari hasil pemeriksaan, ditemukan 48 paket sabu dengan berat 7.964,83 gram atau hampir 8 kilogram, dengan empat orang tersangka,” ungkap Wedi Mahadi dalam konferensi pers di Mapolda Sumbar Selasa (10/2/2026).

Kurang dari sebulan berselang, upaya serupa kembali terdeteksi. Pada Jumat, 6 Februari 2026, pukul 08.30 WIB, petugas menemukan 12 paket sabu seberat 1.510 gram (1,51 kilogram)di Terminal BIM. Dalam kasus ini, polisi mengamankan satu orang tersangka.

Menurut Wedi, kedua kasus tersebut menunjukkan pola yang sama, yaitu paket sabu dikemas secara rapi dan disempurnakan untuk mengelabui sistem keamanan bandara, namun tetap menyisakan kejanggalan saat melewati mesin X-Ray.

Baca Juga  Terjaring Razia Operasi Zebra Singgalang, Pengendera Langsung Disuntik Vaksin di Tempat?

“Begitu muncul kecurigaan, langsung dilakukan pembongkaran bersama AVSeC. Hasilnya positif narkotika,” ujarnya.

Dari BIM ke Luar Sumbar

Dari hasil pendalaman sementara, Ditresnarkoba memastikan bahwa sabu tersebut bukan berasal dari Sumatera Barat. Jejak peredarannya mengarah ke jaringan di luar daerah, bahkan lintas negara.

“Pendalaman kami mengarah ke Malaysia. Barang masuk ke Sumatera melalui jalur laut, lalu bergerak darat dan udara. Sumatera Barat ini berada di jalur perlintasan strategis,” kata Wedi.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa Sumbar tidak lagi sekadar wilayah lintasan. Pangsa pasar narkoba kini justru berada di dalam Sumatera Barat sendiri, terutama di kawasan perkotaan.

“Pangsa pasarnya ada di Sumbar. Ini sudah menjadi tempat penjualan, di kota-kota besar kabupaten dan kota,” tegasnya.

Dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, aparat telah memetakan tiga daerah utama yang menjadi sasaran peredaran narkoba, meski tidak dirinci secara terbuka demi kepentingan penyelidikan. Meski demikian, seluruh wilayah tetap dalam pengawasan ketat.

“Begitu barang masuk wilayah Sumbar, akan kita kejar berdasarkan informasi masyarakat. Baik dari Panyabungan maupun daerah lainnya,” ujarnya.

Data keseluruhan kasus menonjol yang diungkap Polda Sumbar sepanjang Januari hingga awal Februari 2026 menunjukkan skala ancaman yang serius. Selain sabu, aparat juga berhasil mengamankan narkotika jenis ganja dalam jumlah besar.

Baca Juga  Polresta Padang Ringkus Penyalahguna Narkoba, Satu Pelaku di Bawah Umur

Total barang bukti kasus menonjol yang diamankan Polda Sumbar meliputi 283 paket besar ganja dengan berat 261.300 gram (261,3 kilogram). Lalu narkoba jenis sabu-sabu seberat 9.474,83 gram atau 9,47 kilogram.

Kasus-kasus ini disampaikan dalam konferensi pers yang dipimpin Wakil Kepala Polda Sumbar Brigjen Pol Solihin Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya, Dirresnarkoba Kombes Pol Wedi Mahadi, Kapolres Padang Pariaman Kombes Pol Faisol Amir dan Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar Datuak Sati

Wedi Mahadi menegaskan, kompleksitas modus dan jalur distribusi narkoba menuntut penguatan koordinasi lintas stakeholder. Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan kepolisian.

“Bandara, pelabuhan, jalan darat, semuanya harus diperkuat. Koordinasi antar-stakeholder adalah kunci,” katanya.

Dua kali penggagalan penyelundupan sabu di BIM ini menjadi penanda bahwa bandara telah berubah menjadi medan baru perang melawan narkoba. Modus semakin canggih, jaringan semakin rapi, dan Sumatera Barat kini berada di garis depan pertarungan tersebut.

Bagi aparat dan masyarakat, fakta ini menjadi peringatan keras, perang melawan narkoba di Ranah Minang bukan lagi ancaman laten, tetapi realitas yang sudah di depan mata. (*).