Sementara itu, Gubernur Mahyeldi mengungkapkan bahwa dampak bencana yang melanda Sumbar sangat luas. Dari 19 kabupaten dan kota, sebanyak 16 daerah terdampak, meliputi 313 nagari dan 83 kecamatan, dengan lebih dari 72 ribu kepala keluarga merasakan langsung dampaknya.
“Total nilai kerusakan dan kerugian akibat bencana diperkirakan mencapai lebih dari Rp33 triliun, dengan kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi sekitar Rp22 triliun. Dampaknya juga terasa pada dunia kerja dan sumber penghidupan masyarakat,” jelas Mahyeldi.
Angka-angka itu menunjukkan besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, menurut Mahyeldi, pemulihan tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata.
“Atas nama Pemerintah Provinsi dan masyarakat Sumatera Barat, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kementerian Ketenagakerjaan. Bantuan ini bukan sekadar bantuan sosial, tetapi intervensi strategis untuk membuka kembali kesempatan kerja,” tegasnya.
Sumatera Barat, lanjut Mahyeldi, memiliki lebih dari 700 ribu unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Program Padat Karya dan Tenaga Kerja Mandiri dinilai sangat relevan untuk mendorong kebangkitan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Di tengah puing dan sisa duka, bantuan tersebut menjadi simbol gotong royong antara pusat dan daerah. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali yang runtuh, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi agar lebih tangguh menghadapi masa depan.
“Pemulihan pascabencana bukan hanya membangun kembali yang rusak, tetapi menguatkan kembali ekonomi masyarakat. Dengan kolaborasi dan semangat gotong royong, insyaallah Sumatera Barat bisa bangkit dan menjadi lebih kuat,” pungkas Mahyeldi.
Pemerintah Provinsi Sumbar pun berkomitmen mengawal pelaksanaan seluruh program bantuan tersebut bersama pemerintah kabupaten dan kota, agar berjalan efektif, tepat sasaran, serta benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat yang tengah berjuang menata kembali kehidupannya. (*)






