“Seorang temannya sempat melihat tangan Aska melambai-lambai di sungai seperti meminta tolong. Teman-temannya berusaha mengejar dan menolong, tetapi korban tiba-tiba hilang dan tidak terlihat lagi,” kata Arif.
Salah seorang saksi, Alip (15), bahkan sempat menyelam untuk mencari korban. Ia menyusuri aliran sungai hingga ke hilir dan bertanya kepada warga yang sedang beraktivitas di tepi sungai. Namun, Aska tak kunjung ditemukan.
Karena hari mulai gelap menjelang Magrib, para remaja tersebut pulang dengan dugaan bahwa korban telah lebih dahulu kembali ke rumah.
Laporan resmi hilangnya Aska baru diterima aparat pada malam hari sekitar pukul 21.30 WIB. Malam itu juga, personel Polsek Ranah Pesisir, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Wali Nagari Sungai Liku Pelangai, perangkat kampung, BPBD Pos Ranah Pesisir, serta masyarakat setempat langsung melakukan pencarian. Namun upaya tersebut terkendala karena derasnya arus dan meningkatnya debit air akibat curah hujan tinggi.
Sekitar pukul 22.30 WIB, pencarian sementara dihentikan demi keselamatan tim gabungan.
“Kami sudah berupaya maksimal bersama unsur TNI, Polri, pemerintah nagari, BPBD dan masyarakat. Namun karena kondisi arus meningkat dan cuaca kurang bersahabat, pencarian dihentikan sementara,” ujar Kapolsek Ranah Pesisir Iptu Okdianto saat itu.
Ia menyebut, kedalaman Sungai Batang Pelangai di lokasi korban tenggelam diperkirakan mencapai 8 hingga 10 meter, dengan arus yang cukup kuat, terutama saat debit air meningkat.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai, terlebih saat musim hujan. Aparat kembali mengimbau orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anak mereka di area perairan terbuka yang berisiko tinggi. (h/kis)





