Dalam kesempatan tersebut, Welly juga menegaskan bahwa pembangunan Pasaman tidak hanya berorientasi pada capaian fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembentukan karakter masyarakat yang berakhlak, disiplin, dan bertanggung jawab.
Ia menetapkan prinsip Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sebagai fondasi moral seluruh program pembangunan daerah. Filosofi yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau itu, menurutnya, harus menjadi nilai dasar dalam setiap kebijakan pemerintah.
Penguatan ABS-SBK, lanjutnya, merupakan program unggulan pertama dari sepuluh program prioritas yang telah dicanangkan. Posisi prinsip tersebut dinilai strategis karena menjadi ruh yang menjiwai sembilan program prioritas lainnya.
“Semangat ABS-SBK bukan hanya agenda tersendiri, tetapi menjadi landasan nilai yang membimbing seluruh arah pembangunan daerah,” kata Welly.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan tausiyah oleh Ustad Masri. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa serta memperbaiki hubungan antarsesama melalui saling memaafkan sebagai bekal menyambut Ramadan.
Suasana khidmat terasa ketika seluruh hadirin larut dalam doa bersama, memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Pasaman.
Kegiatan ditutup dengan tradisi bersalam-salaman antara Bupati, Wakil Bupati, serta jajaran pejabat dan ASN sebagai simbol kebersamaan dan saling memaafkan menjelang bulan suci.
Melalui momentum Ramadan, Pemkab Pasaman berharap semangat spiritual dapat berjalan seiring dengan penguatan tata kelola pemerintahan yang tertib, profesional, dan berintegritas menuju Pasaman yang kuat secara struktural dan kokoh secara moral. (h/ekie)





