Opini

Konflik Global dan “Permainan” Harga Emas

17
×

Konflik Global dan “Permainan” Harga Emas

Sebarkan artikel ini
global

Ketika dunia diliputi ketegangan geopolitik, harga emas hampir selalu menanjak. Dari konflik di Timur Tengah hingga rivalitas kekuatan besar dunia, emas kembali dipuja sebagai safe haven. Dalam situasi penuh ketidakpastian, logam mulia ini menjadi tempat berlindung terakhir bagi modal yang gelisah.

Namun, kenaikan harga emas bukan sekadar reaksi alamiah pasar. Ia juga mencerminkan mekanisme global yang kompleks bahkan menyerupai “permainan” yang dijalankan oleh kekuatan ekonomi besar. Di balik kilau emas terdapat dinamika kekuasaan finansial, psikologi pasar, dan strategi geopolitik yang saling terkait.

Baca Juga : Penataan Lembah Anai Tak Bisa Ditawar

Lonjakan harga emas di tengah konflik global tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada ketakutan kolektif, tetapi sekaligus dipengaruhi struktur ekonomi global yang menciptakan spekulasi dan ketimpangan terutama bagi negara berkembang dan masyarakat kecil. Fenomena ini memperlihatkan bahwa harga emas bukan sekadar angka pasar, melainkan cerminan kegelisahan dunia.

Cermin Ketakutan Global

Secara sosiologis, emas selalu menjadi simbol keamanan saat krisis melanda. Ketika konflik meningkat, masyarakat dan investor berbondong-bondong memindahkan aset ke emas. Ini bukan sekadar strategi investasi, tetapi respons psikologis terhadap ketidakpastian.

Ketakutan kolektif menciptakan lonjakan permintaan yang mendorong harga naik. Dalam situasi konflik, rasa aman menjadi barang langka. Emas lalu menjelma simbol stabilitas yang dicari banyak pihak.

Namun, rasa takut global tidak dirasakan secara merata. Negara maju memiliki cadangan emas dan sistem keuangan yang kokoh, sementara negara berkembang lebih rentan terhadap gejolak harga dan inflasi. Di sinilah terlihat bahwa ketakutan saja tidak cukup menjelaskan lonjakan harga emas; mekanisme pasar global turut memperbesar dampaknya.

Harga emas tidak bergerak dalam ruang hampa. Pasar komoditas global didominasi institusi keuangan raksasa, bank sentral negara maju, dan spekulan global yang mampu memengaruhi arah harga. Ketika konflik meningkat, aktor besar melakukan reposisi aset dalam skala masif. Pergerakan ini mendorong harga naik bukan semata karena kebutuhan riil, melainkan strategi lindung nilai dan spekulasi.

Dampaknya terasa di negara berkembang: mata uang melemah, inflasi meningkat, dan daya beli masyarakat tergerus. Dengan demikian, kenaikan harga emas menjadi bagian dari ketimpangan struktur ekonomi global. Dominasi pasar ini semakin kuat ketika ketidakpastian politik global tidak mampu dikendalikan.

Baca Juga  Dampak Psikotropika Terhadap Kesehatan Diri

Ketidakpastian Hukum dan Politik Internasional

Dari perspektif hukum dan politik internasional, konflik yang berlarut menunjukkan rapuhnya mekanisme global dalam menjaga perdamaian. Ketika norma internasional tidak mampu mencegah perang atau eskalasi kekerasan, pasar membaca situasi itu sebagai sinyal risiko tinggi.

Investor global kemudian menghindari instrumen berisiko dan memindahkan aset ke emas. Setiap peningkatan tensi geopolitik, dengan demikian, hampir selalu diikuti kenaikan harga logam mulia tersebut.

Ketidakstabilan politik juga membuka ruang spekulasi. Saat kepastian hukum melemah dan sanksi ekonomi diberlakukan secara selektif, pasar tidak lagi bergerak berdasarkan kepastian aturan, melainkan persepsi risiko.

Dalam situasi seperti ini, aktor finansial besar melakukan reposisi aset dan lindung nilai, yang sering kali mempercepat volatilitas harga. Emas pun berubah fungsi: bukan sekadar komoditas, tetapi simbol krisis kepercayaan terhadap stabilitas global.

Contoh konkret terlihat di Timur Tengah. Eskalasi konflik di Gaza serta ketegangan Iran-Israel membuat investor global mencari aset aman. Setiap peningkatan serangan atau ancaman perluasan perang langsung direspons pasar dengan lonjakan harga emas dan penguatan dolar AS. Ketika jalur perdagangan energi terancam dan harga minyak bergejolak, ketakutan terhadap inflasi global ikut mendorong permintaan emas sebagai pelindung nilai.

Kasus lain tampak pada krisis ekonomi dan politik di Venezuela. Saat hiperinflasi menghancurkan mata uang bolívar dan sanksi internasional membatasi akses ke sistem keuangan global, pemerintah Venezuela menjual cadangan emasnya untuk memperoleh likuiditas. Situasi ini menunjukkan bahwa emas bukan hanya aset investasi, tetapi alat bertahan hidup ketika sistem keuangan global tidak lagi dapat diakses secara normal.

Sementara itu, negara kuat justru memperkuat cadangan emasnya sebagai perlindungan strategis. Amerika Serikat memiliki salah satu cadangan emas terbesar di dunia, yang disimpan antara lain di Fort Knox. Cadangan ini memberi kepercayaan global terhadap stabilitas dolar AS dan menjadi bantalan ketika krisis ekonomi atau geopolitik terjadi.

Dalam kondisi dunia tidak pasti, negara dengan cadangan emas besar memiliki keunggulan strategis yang signifikan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada keamanan dan kemanusiaan, tetapi juga menciptakan dinamika keuntungan dan kerentanan yang timpang.

Baca Juga  Jadi Ujung Tombak Saat Pandemi, Bank Nagari Andalkan Layanan Digital

Ketika perang atau ketegangan meningkat, harga emas naik dan menguntungkan pihak yang telah memiliki cadangan besar. Sebaliknya, negara berkembang yang bergantung pada stabilitas ekonomi global harus menghadapi inflasi impor, pelemahan mata uang, dan menurunnya daya beli masyarakat.

Dengan demikian, ketidakpastian hukum dan politik internasional tidak berhenti pada arena diplomasi atau militer. Ia menjalar hingga ke pasar komoditas dan memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam pusaran konflik global, emas menjadi indikator ketakutan sekaligus alat kekuasaan ekonomi menguatkan mereka yang siap, dan menekan mereka yang rentan. Dalam pusaran ketidakpastian global, emas berubah menjadi indikator ketakutan sekaligus alat kekuasaan ekonomi.

Emas, Kekuasaan, dan Ketimpangan Global

Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi global masih berpusat pada kekuasaan dan ketimpangan. Emas bukan sekadar logam mulia, tetapi simbol kepercayaan terhadap stabilitas dunia.

Ketika kepercayaan terhadap sistem global melemah, emas menguat. Sebaliknya, saat stabilitas terjaga, perannya meredup. Artinya, kekuatan emas tumbuh dari ketidakpercayaan terhadap tatanan dunia.

Konflik global secara tidak langsung memperkuat dominasi ekonomi pihak tertentu. Negara dengan cadangan emas besar memperoleh keuntungan strategis, sementara negara miskin semakin tertinggal. Kilau emas, pada akhirnya, memantulkan kegelisahan dunia yang belum menemukan keseimbangan.

Lonjakan harga emas di tengah konflik global bukan sekadar fenomena pasar. Ia mencerminkan ketakutan kolektif, dominasi finansial global, dan rapuhnya tatanan hukum internasional. Emas bersinar bukan karena dunia stabil, tetapi karena dunia sedang gelisah.

Sampai kapan konflik dibiarkan menjadi bahan bakar spekulasi dan ketimpangan ekonomi? Bayangkan sebuah perahu kecil dihantam badai di tengah laut. Para penumpang panik dan berebut pelampung agar tetap mengapung. Ketika semua orang membutuhkannya sekaligus, harga pelampung melonjak.

Emas bekerja dengan cara yang sama: saat konflik global menjadi badai, semua orang mencari “pelampung” keamanan, sehingga harganya melambung. Mereka yang sejak awal memiliki banyak pelampung tetap tenang bahkan dapat menjualnya dengan harga tinggi. Di situlah konflik tidak hanya menciptakan ketakutan, tetapi juga membuka ruang permainan harga yang membuat sebagian pihak bertahan, sementara yang lain semakin tenggelam. (*)

Oleh:

Ahmad Iffan

Ketua Bagian Hukum Internasional Universitas Bung Hatta