Sumbar

Pemko Payakumbuh Ajak Warga Bereskan Sampah dari Hulu

1
×

Pemko Payakumbuh Ajak Warga Bereskan Sampah dari Hulu

Sebarkan artikel ini
Payakumbuh

Payakumbuh, hantaran.Co–Persoalan sampah di Kota Payakumbuh kian menumpuk dari hari ke hari, terutama di kawasan aliran Sungai Batang Agam yang belakangan berkembang sebagai ruang publik dan destinasi wisata. Tumpukan sampah rumah tangga yang terbawa arus memperlihatkan bahwa masalah kebersihan tidak lagi bisa ditangani secara sporadis, melainkan membutuhkan perubahan pola kelola dari hulu hingga hilir.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Payakumbuh menggelar gotong royong massal di sepanjang bantaran sungai, Jumat kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026. Aksi ini dipusatkan di kawasan landmark Balai Wilayah Sungai Sumatera V sebagai simbol keterpaduan penanganan lingkungan.

Baca Juga : Pembangunan Jalan Nasional Air Dingin Sisakan Persoalan Krusial

Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta menilai, akar persoalan sampah justru berada di hulu, yakni pada kebiasaan masyarakat di tingkat rumah tangga. Selama pola konsumsi dan perilaku membuang sampah tidak berubah, beban di hilir akan terus membesar dan sulit dikendalikan.

Ia mengingatkan, arahan Presiden Republik Indonesia melalui penguatan Gerakan Nasional Indonesia ASRI menekankan pentingnya Indonesia Resik sebagai prasyarat lingkungan aman dan sehat. Pesan tersebut, kata dia, diterimanya saat mengikuti rapat koordinasi nasional pusat dan daerah di Sentul pada 2 Februari 2026.

Baca Juga  Buang Sampah Sembarangan di Payakumbuh Bakal Disanksi

Dalam konteks daerah, Zulmaeta mengakui kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dan Tempat Pembuangan Akhir kian terbebani. Tanpa pengurangan dari sumbernya, fasilitas pengolahan akan terus tertinggal dari laju timbulan sampah.

Ia menekankan, gotong royong bukan sekadar membersihkan sungai sehari, melainkan pintu masuk membangun kesadaran kolektif. “Disiplin memilah sampah dari rumah dipandang sebagai langkah praktis untuk menekan beban TPST dan TPA sekaligus mengurangi pencemaran perairan,” katanya.

Masalah lain yang kerap muncul adalah kecenderungan kegiatan bersih-bersih bersifat seremonial. Menurutnya, tanpa konsistensi, efek dari aksi massal akan cepat menguap dan sungai kembali dipenuhi sampah dalam waktu singkat.

Pemko Payakumbuh Dorong OPD Hidupkan Budaya Korvei

Karena itu, ia mendorong setiap perangkat daerah menghidupkan kembali budaya korvei di lingkungan kerja, minimal satu jam sebelum aktivitas kantor dimulai. Pola ini diharapkan menular ke lingkungan tempat tinggal pegawai dan komunitas sekitar.

Baca Juga  APBD Perubahan Sumbar 2021, Putar Otak Tutupi Defisit Rp27 Miliar

Di lapangan, ratusan peserta dari unsur TNI-Polri, kepala OPD, camat, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga warga terlibat langsung membersihkan bantaran sungai. Kolaborasi lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak dapat dibebankan pada satu institusi semata.

Peringatan HPSN 2026 mengusung tema “Kolaborasi untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)”, yang menekankan kerja bersama sebagai kunci pembentukan budaya bersih. Tema ini menegaskan bahwa krisis sampah adalah persoalan sosial sekaligus tata kelola.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Payakumbuh Delni Putra menyebutkan, sekitar 400 peserta ambil bagian dalam gotong royong tersebut. Menurutnya, aksi ini dirancang sebagai pemantik agar kerja bakti serentak tumbuh di setiap kelurahan.

Ia menambahkan, pelibatan pemerintah, aparat keamanan, dunia pendidikan, komunititas, dan masyarakat umum diharapkan memperkuat keberlanjutan gerakan peduli lingkungan. Tanpa kesinambungan, upaya penanganan sampah berisiko kembali terjebak pada kegiatan simbolik, sementara masalah di hulu terus berulang.