Ia menambahkan, untuk 15 kabupaten/kota lainnya, secara umum kondisi sudah kembali normal dan beroperasional. “Dari segi pemerintahan, fasilitas kesehatan, sarana prasarana pendidikan, akses darat, ekonomi, pasar, restoran, rumah ibadah, SPBU, listrik, PDAM, internet, gas elpiji dan lain-lain, untuk 15 kabupaten/kota tidak masalah lagi artinya bisa beroperasional,” tuturnya.
Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga menekankan ada tiga wilayah sungai yang perlu perhatian karena sedimentasi dan tumpukan kayu, yakni di Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.
Sementara itu, di Aceh, Tito menyebut sebagian besar daerah sudah masuk kategori normal. “Untuk Aceh, sudah normal 10, sebagaimana dalam data yang berwarna hijau, yang artinya normal. Tapi yang ada kuningnya perlu catatan, mendekati normal satu kabupaten/kota, yaitu Bener Meriah. Bener Meriah ini ada problema, yaitu jalan kabupaten/kota dan jalan desanya bermasalah,” ujarnya.
Terdapat tujuh kabupaten/kota yang memerlukan atensi khusus, di antaranya Bireuen, Nagan Raya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya. Di Bireuen, masalah utama terdapat pada sarana pendidikan, jembatan, masjid, PDAM, serta sungai.
“Di Kabupaten Bireuen ini sarana pendidikannya hampir semuanya terdampak, akses jalan darat kabupaten/kota, nasional oke, provinsi oke, dan jembatan di Bireuen. Kemudian rumah ibadah masjid serta PDAM dan juga sungai,” kata Tito.
Tito menyebut, di Nagan Raya hanya menghadapi persoalan sungai. Sementara di Aceh Timur, banyak fasilitas pendidikan mulai dari SD hingga madrasah dan SMA terdampak.
Di Aceh Tengah, terdapat kantor desa yang rusak, klinik yang belum beroperasi penuh, jembatan yang perlu diperbaiki, serta fenomena tanah amblas yang sempat memutus jalan kabupaten. “Di Aceh Tengah ada satu fenomena adanya tanah yang amblas di sana yang terus melebar kemarin memutus jalan kabupaten,” katanya.
Aceh Utara masih menghadapi persoalan pemerintahan desa, fasilitas pendidikan, serta jembatan yang terputus meski sudah difungsikan dengan jembatan darurat. Sementara di Gayo Lues, masalah utama ada pada jalan desa. Untuk Aceh Tamiang, pemerintahan sempat lumpuh akibat lumpur yang merendam puluhan kantor.
“Aceh Tamiang kemarin pemerintahannya betul-betul lumpuh, karena lumpur di 47 kantornya dan sekarang sudah bersih dan sudah melakukan operasional meskipun belum sepenuhnya. Ini satu-satunya pemerintahan kabupaten yang belum beroperasional secara penuh,” katanya.





