Opini

Bukan Sekadar Makan, Tapi Soal Masa Depan Bangsa

0
×

Bukan Sekadar Makan, Tapi Soal Masa Depan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Bukan

Dimensi Sosial dan Keadilan

Program MBG juga memiliki dimensi moral yang kuat. Anak dari keluarga kurang mampu sering kali memulai hari sekolah tanpa asupan memadai. Ketimpangan akses terhadap gizi memperlebar jurang kualitas pendidikan. Ketika negara hadir menyediakan makanan bergizi, negara sedang mengoreksi ketidaksetaraan titik awal.

Keadilan sosial bukan hanya tentang distribusi pendapatan, tetapi juga distribusi kesempatan. Anak yang sehat memiliki peluang belajar lebih baik, hadir lebih konsisten di sekolah, dan tumbuh dengan rasa percaya diri. Dalam jangka panjang, ini mempersempit kesenjangan sosial yang selama ini menjadi tantangan pembangunan.

Tata Kelola dan Akuntabilitas

Setiap kebijakan publik berskala besar tentu memerlukan tata kelola yang ketat. Transparansi pengadaan, pengawasan berlapis, pelibatan pemerintah daerah, serta sistem monitoring yang terukur menjadi kunci agar program berjalan efektif dan akuntabel. Desain MBG yang berbasis distribusi barang dan layanan langsung memiliki mekanisme kontrol yang lebih konkret dibanding skema bantuan yang sepenuhnya berbentuk transfer tunai.

Baca Juga  Siswa di Padang Jemput MBG ke Sekolah Selama Ramadan

Dengan sistem pengawasan yang baik, risiko penyalahgunaan dapat ditekan dan manfaat dapat tepat sasaran. Kepercayaan publik terhadap kebijakan negara lahir bukan hanya dari niat baik, tetapi dari tata kelola yang profesional dan terbuka.

Sekali Dayung, Banyak Tujuan

Dalam kearifan Minangkabau dikenal pepatah, “sakali marangkuah dayung, duo tigo pulau talampau.” Sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah ini menggambarkan kebijakan yang efektif—satu langkah strategis menghasilkan banyak manfaat. MBG memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menggerakkan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Baca Juga  Ketua DPRD Sumbar Minta MBG SPPG SBLF Jati Perkuat Ekonomi Lokal

Pepatah lain berbunyi, “sakali mambuka puro, duo tigo utang ta baia.” Sekali membuka simpul, dua tiga utang terbayar. MBG tidak hanya menjawab persoalan gizi, tetapi juga mengurangi beban keluarga kurang mampu, membuka lapangan kerja, dan memperluas distribusi manfaat fiskal negara.

Sementara itu, “mangabek padi jo daun” mengandung makna efisiensi dan daya guna yang berlipat. Dengan desain yang terintegrasi, MBG menghasilkan manfaat yang lebih besar dari tujuan awalnya. Ia bukan sekadar menyediakan makanan, tetapi membangun fondasi kualitas generasi dan memperkuat ekonomi lokal.