“Ini bukan lagi persoalan kecil. Setiap banjir, ratusan rumah warga terendam dan aktivitas masyarakat lumpuh. Bahkan jalan nasional hampir putus karena air meluap tinggi. Artinya, secara teknis gorong-gorong yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi,” ucap Novermal kepada wartawan, Minggu (22/2/2026).
Novermal menyebut, telah berulang kali berkomunikasi langsung dengan pejabat terkait di BPJN Sumbar, termasuk kepala balai yang saat ini menjabat. Namun hingga kini, penanganan konkret belum juga terealisasi.
“Mungkin BPJN masih fokus menangani dampak bencana di daerah lain. Tapi harapan masyarakat Ranah Pesisir juga harus menjadi prioritas. Ini menyangkut keselamatan dan keberlangsungan hidup warga,” katanya.
Menurut Novermal, dalam kunjungan ke Sungai Batang Pelangai pasca bencana 27 November 2025, Tim Teknis Dinas SDA-BK Provinsi Sumatera Barat telah melakukan kajian lapangan. Hasilnya, tim teknis merekomendasikan agar gorong-gorong crossing tersebut diganti dengan jembatan. Tujuannya agar debit banjir dapat mengalir lebih lancar dan cepat, sehingga genangan tidak meluas dan tidak bertahan lama seperti yang selama ini terjadi.
“Rekomendasi teknis sudah jelas, tinggal eksekusi. Kalau diganti dengan jembatan, kapasitas tampung air tentu jauh lebih besar. Minimal banjir tidak terlalu lama menggenangi rumah warga,” jelasnya.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan setempat, Novermal berharap BPJN Sumbar segera turun langsung meninjau lokasi dan mengambil langkah penanganan yang komprehensif.
“Kami berharap BPJN Sumbar segera meninjau langsung ke lapangan dan melakukan penanganan sebagaimana mestinya. Jangan sampai kita menunggu banjir yang lebih besar lagi atau sampai benar-benar memutus jalan nasional, baru semua bergerak,” pungkasnya. (h/kis)





