Dony Oskaria Ingatkan Mahyeldi-Vasko Sumbar Bisa Miskin
Terpisah, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria ikut menyoroti perlambatan ekonomi Sumbar. Menurutnya, jika ekonomi tidak dikelola dengan baik, Sumbar bisa-bisa jatuh miskin.“Salah satu obatnya adalah membangun industri. Sebab keadaan sudah buruk, pengeluaran dua kali lipat dari pendapatan,” kata tokoh perantau Minang itu saat mengunjungi Semen Padang, Jumat (20/2/2026).
Ia menyebut, dirinya selalu mengingatkan para pemimpin di Sumbar untuk memikirkan pertumbuhan ekonomi. “Bayangkan, PDRB Jambi tinggi dari Sumbar. Artinya, pendapatan tiap orang di Jambi lebih tinggi dari orang Sumbar. Data BPS menunjukkan per kapita Sumbar sebesar Rp54,33 juta, sedangkan Jambi 79,8 juta,” katanya.
Ia mengaku ingin ada industri di Sumbar. Ada perbaikan pendapatan petani. Ketika mengunjungi Pelindo di Teluk Bayur, ia mendapati ternyata kapal-kapal yang datang kosong, pergi baru bermuatan. Atau datanya bermuatan, kembali dengan kargo kosong. Ini menurutnya berkontribusi pada mahalnya harga komoditas Sumbar di tempat lain.
Dony juga sempat menyinggung soal tanah ulayat. Menurutnya, selain banyak yang jadi tanah terlantar, tanah ulayat juga belum memberikan dampak ekonomi pada anak kemenakan. “Saya berharap ekonomi Sumbar bisa bangkit segera. Bukan hanya dengan berdoa, tapi mesti bergerak, mesti bekerja,” katanya.
Daya Beli Anjlok, Pedagang Menjerit
Dari sisi mikro, melemahnya daya beli masyarakat dalam setahun terakhir menjadi pukulan besar bagi pedagang-pedagang kecil di Sumbar. Salah satu pedagang di kawasan Pasar Raya Padang, Hari karenanya meminta pemda untuk sering-sering melihat kondisi riil di pasar-pasar tradisional.”Kondisi perdagangan bisa dibilang tidak baik-baik saja. Daya beli merosot tajam. Pasar Raya pun sepi. Lihatlah sekali-sekali. Kami berharap pedagang seperti kami mendapat perhatian juga,” katanya kepada Haluan, beberapa waktu yang lalu.
Dengan suara lirih ia berharap kondisi Ramadan saat ini bisa “manumbok” atau menambal modal pokok yang banyak habis karena aktivitas jual beli yang menurun.Sementara itu, pedagang lainnya, Elen berharap pemda merangkul pelaku UMKM untuk dapat naik kelas dan melek digital. “Kondisi sudah beda. Dulu pasar ramai, sekarang seperti kuburan. Kalau tidak dengan media sosial kami jualan baju, bisa-bisa tidak makan kami karena pelanggan sepi,” ujarnya.
Ia berharap kondisi perputaran ekonomi dari lingkup terbawah seperti pasar-pasar tradisional juga menjadi perhatian pemda.Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian Sumbar tahun 2025 tumbuh sebesar 3,37 persen, lebih rendah dibanding capaian tahun 2024 yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,37 persen. Dengan angka pertumbuhan ini, Sumbar menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Pulau Sumatera.
“Pertumbuhan ekonomi Sumbar ini dihitung berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun dan atas harga konstan 2010 mencapai Rp51,85 triliun,” kata Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, beberapa waktu yang lalu.





