Opini

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Fadli Maigus:1 Tujuan untuk Kejayaan Kota Padang

1
×

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Fadli Maigus:1 Tujuan untuk Kejayaan Kota Padang

Sebarkan artikel ini
Satu

Pada akhirnya, esensi refleksi kepemimpinan wali kota bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apakah satu tahun ini membuat kota lebih baik dari sebelumnya? Lebih adil, lebih tertib, lebih rukun, dan lebih bermartabat?

Jika jawabannya mengarah ke perbaikan—meski belum sempurna—maka kepemimpinan berada di jalur yang benar. Refleksi bukan untuk mencari pujian, tetapi untuk menjaga kompas agar kota terus melangkah ke masa depan dengan keyakinan dan harapan bersama.

Satu Tahun Kepemimpinan

Satu tahun kepemimpinan bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah ujian arah, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan dalam situasi normal maupun krisis. Kota tidak hanya menilai janji, tetapi merasakan dampaknya. Refleksi ini membaca fondasi yang telah dibangun sekaligus menatap prospek yang harus diperkuat.

Baca Juga  Renungan Ekonomi Sumatera Barat

Konsolidasi birokrasi relatif stabil. Tidak ada kegaduhan berarti di internal pemerintahan. Stabilitas ini penting karena memungkinkan program berjalan dengan fokus dan minim friksi. Namun stabil saja tidak cukup. Kota modern membutuhkan birokrasi yang digital, transparan, dan berbasis kinerja. Profesionalisme harus menjadi standar, bukan sekadar slogan.

Ujian besar datang ketika bencana akhir 2025 melanda. Respons tanggap darurat menunjukkan koordinasi lintas OPD berjalan dan distribusi bantuan relatif terkendali. Namun pembelajaran terpenting adalah pentingnya pergeseran prioritas: pemenuhan hak dasar korban, perbaikan sarana umum, dan penguatan mitigasi berbasis komunitas. Kepemimpinan diuji bukan hanya dalam membangun proyek, tetapi dalam melindungi yang paling rentan.

Program unggulan menunjukkan arah pencapaian—penguatan UMKM, layanan sosial, dan identitas religius-budaya. Tetapi arah harus diikuti ukuran dampak. Target penurunan kemiskinan, indeks kepuasan publik, serta evaluasi berkala harus menjadi tradisi baru tata kelola. Program yang baik adalah program yang terukur dan berkelanjutan.

Baca Juga  Saat Tiga Provinsi Menjerit: Mengapa Status Bencana Nasional Tak Bisa Ditunda?

Smart Surau menjadi investasi sosial strategis. Surau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan karakter. Dalam konteks meningkatnya tantangan sosial seperti tawuran dan degradasi moral, penguatan institusi keagamaan berbasis tokoh lokal adalah benteng ketahanan sosial. Kota yang kuat bukan hanya infrastrukturnya, tetapi moral warganya.

Di sektor ekonomi rakyat, Pasar Raya Padang tetap menjadi jantung pergerakan. Penataan yang adil antara pedagang toko dan kaki lima harus terus dilakukan dengan pendekatan dialogis dan manusiawi. Keadilan kota diukur dari kemampuannya memberi ruang hidup bagi yang kecil tanpa merusak keteraturan.