Opini

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Fadli Maigus:1 Tujuan untuk Kejayaan Kota Padang

1
×

Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Fadli Maigus:1 Tujuan untuk Kejayaan Kota Padang

Sebarkan artikel ini
Satu

Layanan dasar seperti air bersih juga memerlukan terobosan jangka panjang. Investasi hulu, perbaikan distribusi, dan pengurangan kebocoran menjadi keharusan. Tanpa itu, persoalan teknis dapat berubah menjadi persoalan sosial.

Semua capaian program ini hanya akan kokoh jika kepemimpinan di puncak harmonis. Relasi antara Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir harus terus dijaga dalam suasana batin yang tersambung dan saling membesarkan. Sejarah banyak daerah menunjukkan, konflik bukan lahir dari perbedaan visi, tetapi dari ego dan bisikan yang tak terkelola. Komunikasi langsung dan kepercayaan menjadi fondasi stabilitas politik.

Di era digital, kritik media sosial tak terelakkan. Namun kritik harus dijawab dengan data dan komunikasi yang santun. Pemerintahan modern tidak hanya bekerja, tetapi juga menjelaskan kerja dan capaian secara transparan.

Baca Juga  Mengembangkan Kreativitas Mahasiswa Pada Pendidikan Vokasi Melalui Model Student Research Based Learning

Harmoni yang Meningkat

Refleksi satu tahun ini tidak lengkap tanpa melihat fakta sosial yang sangat penting: harmoni kota meningkat secara nyata. Pertama, kasus salah paham umat lintas agama pada Juli 2025 di Padang tidak berkembang menjadi konflik terbuka. Penyelesaiannya dilakukan melalui pendekatan tokoh lokal—ulama, pemuka agama, niniek mamak, dan unsur pemerintah—yang duduk bersama mencari jalan damai. Model penyelesaian berbasis kearifan lokal ini bahkan diapresiasi oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia sebagai contoh resolusi sosial yang efektif.

Kedua, sebagai ibu kota provinsi, Padang berkontribusi signifikan dalam meningkatkan peringkat Kerukunan Umat Beragama (KUB). Jika lima tahun lalu peringkat berada di kisaran 30-an, kini naik ke posisi lima terbaik secara nasional. Lonjakan ini bukan sekadar angka, tetapi indikator meningkatnya kepercayaan, komunikasi lintas iman, dan stabilitas sosial.

Baca Juga  Berpikirlah Seperti Orang Minang

Ketiga, pada tahun 2025 Pemerintah Kota Padang menerima penghargaan sebagai kota dengan keharmonisan sosial terbaik. Pengakuan ini menegaskan bahwa stabilitas yang terbangun bukan hanya administratif, tetapi sosial-kultural.

Inilah capaian yang paling strategis. Infrastruktur bisa dibangun, program bisa diluncurkan, tetapi harmoni sosial adalah fondasi jangka panjang peradaban kota. Jika birokrasi stabil, program terukur, layanan dasar diperbaiki, kepemimpinan harmonis, dan masyarakat hidup rukun—maka Padang bukan sekadar berkembang, tetapi naik kelas sebagai kota bermartabat. Kejayaan bukan hanya soal beton dan anggaran. Ia adalah harmoni yang terjaga, kepercayaan yang tumbuh, dan masa depan yang dibangun bersama.(*)

Oleh: Prof. Dr.H.Duski Samad, M.Ag

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat