Di sektor kesehatan, komitmen pemerataan layanan diwujudkan lewat perluasan Universal Health Coverage (UHC). Hingga Desember 2025, sebanyak 16.916 jiwa dibiayai Pemko Solok. Cakupan UHC mencapai 98,7 persen, dengan tingkat keaktifan kepesertaan 91,72 persen.
Atas capaian itu, Kota Solok menerima UHC Award kategori Madya. Pengakuan atas keseriusan menghadirkan jaminan kesehatan bagi warganya. Perlindungan sosial juga diperluas melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi 2.260 pekerja rentan. Mereka adalah buruh bangunan, tukang ojek, dan pekerja informal yang mencakup Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Tak hanya itu, pembayaran rekening air PDAM digratiskan untuk seluruh masjid dan mushalla. Di bulan Ramadan, kebijakan itu terasa simbolis sekaligus substansial, rumah ibadah diringankan bebannya.
Sementara akses pendidikan menjadi prioritas lain. Program Bantuan Seragam dan Perlengkapan Sekolah Gratis bagi siswa SMP kurang mampu menjangkau 252 siswa pada 2025. Pengadaan melibatkan pedagang dan pelaku UMKM lokal, sehingga program sosial berkelindan dengan penguatan ekonomi rakyat.
Program beasiswa ke Timur Tengah tetap berjalan bagi 16 mahasiswa, disertai bantuan keberangkatan untuk 11 mahasiswa jalur mandiri. Kerja sama pendidikan diperluas, termasuk beasiswa bersama Batam Tourism Polytechnic serta nota kesepahaman beasiswa ke Eropa dan Asia melalui PT STEP International Services.
“Membuka akses pendidikan global adalah investasi jangka panjang bagi daya saing Solok pada masa mendatang,” katanya.
Pada sektor ekonomi, pengembangan kawasan sport tourism Puncak Garunun Bidadari Payo menjadi langkah strategis. Kawasan itu ditata sebagai destinasi unggulan berbasis alam dan olahraga, dengan harapan menggerakkan UMKM serta membuka peluang usaha baru.
Diversifikasi ekonomi menjadi kata kunci, Solok tak hanya bertumpu pada sektor tradisional, tetapi berani membaca potensi masa depan.
Penghujung 2025 menjadi ujian berat ketika angin kencang dan banjir bandang melanda Kota Solok. Dalam situasi darurat itu, Wali Kota dan Wakil Wali Kota turun langsung ke lapangan, memimpin koordinasi bersama TNI, Polri, dan relawan.
Respons cepat dan kolaboratif itu mendapat apresiasi, termasuk saat Wakil Menteri Dalam Negeri meninjau Posko Tanggap Darurat Bencana Kota Solok. Bagi banyak warga, momen itu menjadi penegas bahwa kepemimpinan bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan kehadiran di tengah krisis.
Hadirnya Ramadan selalu mengajarkan tentang pengendalian diri, keteguhan, dan harapan. Dalam bingkai itulah satu tahun kepemimpinan Ramadhani Kirana Putra dan Suryadi Nurdal dimaknai. Tantangan fiskal, keterbatasan anggaran, hingga bencana bukan menjadi alasan berhenti, melainkan momentum memperkuat fondasi.
“Satu tahun memang bukan waktu yang panjang. Namun bagi Kota Solok, ia adalah fase konsolidasi peletakan batu pertama menuju Solok Kota Madani, religius, berkeadaban, maju, dan menyejahterakan,” kata Wako Ramadhani. (h/ndi)





