Namun data yang dirilis DPMPTSP justru memperlihatkan kecenderungan yang perlu dicermati. Lebih dari 80 persen investasi Sumbar bertumpu pada sektor tersier, dengan nilai mencapai Rp13,55 triliun.Sektor konstruksi menjadi penyumbang terbesar, yakni Rp10,89 triliun dari 3.174 proyek, disusul perdagangan dan reparasi sebesar Rp374,46 miliar, dengan jumlah proyek mencapai 4.950.
Dominasi sektor jasa dan konstruksi ini menandakan bahwa investasi Sumbar masih bergerak di wilayah yang relatif aman dan cepat berputar, tetapi belum menyentuh penguatan basis produksi jangka panjang.Budi mengakui, tantangan ke depan bukan lagi soal mengejar angka, melainkan memperbaiki kualitas investasi. “Kami ingin investasi yang tidak hanya besar nilainya, tapi juga memberi dampak ekonomi yang luas dan berkelanjutan,” ucapnya.
Berbanding terbalik dengan sektor tersier, sektor primer hanya menyumbang Rp1,89 triliun. Dari angka tersebut, pertambangan menjadi kontributor terbesar dengan Rp872,24 miliar, disertai 558 proyek. Angka ini menempatkan pertambangan sebagai sektor strategis, tetapi sekaligus sensitif.
Sementara itu, sektor sekunder yang menjadi kunci industrialisasi masih tertinggal, dengan total investasi hanya Rp1,36 triliun. Hampir seluruhnya ditopang oleh industri makanan sebesar Rp1,24 triliun. Smentara sektor manufaktur lain seperti tekstil, logam, mesin, dan elektronik masih mencatat angka yang sangat terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa Sumbar belum berhasil menarik investasi industri bernilai tambah tinggi.
Ketimpangan juga terlihat dari sebaran wilayah. Kabupaten Padang Pariaman mencatat lonjakan investasi tertinggi dengan Rp10,39 triliun, jauh melampaui daerah lain. Kota Padang berada di posisi kedua dengan Rp2,39 triliun. Sedangkan daerah lain berada jauh di bawahnya. Pola ini menunjukkan bahwa investasi masih terkonsentrasi di wilayah tertentu dan belum sepenuhnya menjadi alat pemerataan pembangunan.
Di tengah capaian Rp16,81 triliun itu, satu catatan penting muncul, investasi Sumbar memang tumbuh, tetapi belum sepenuhnya mengubah struktur ekonomi. Dominasi sektor jasa dan konstruksi memperlihatkan ekonomi yang bergerak cepat di permukaan, namun masih rapuh di akar.
Bagi Sumbar, tantangannya kini bukan lagi sekadar menaikkan angka investasi, melainkan menentukan arah apakah investasi akan menjadi alat transformasi ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan, atau sekadar laporan tahunan yang hanya indah sekedar angka.





