Padang, hantaran.Co–Satu tahun kepemimpinan pasangan Gubernur Mahyeldi–Vasko di Sumatera Barat ditandai ujian berat yang datang bertubi-tubi. Bencana beruntun sejak 2024 yang menelan 67 korban jiwa belum sepenuhnya pulih, namun pada 2025 gelombang bencana lebih besar kembali menghantam. Sumbar menghadapi compound shock guncangan berlapis sebelum pemulihan tuntas.
Namun di tengah tekanan itu, fondasi sosial-ekonomi nyatanya tetap terjaga.Pertumbuhan ekonomi 2025 memang melambat ke 3,37 persen (c-to-c), terdampak kerusakan infrastruktur, gangguan distribusi, serta tertahannya investasi fisik. Tetapi indikator kesejahteraan justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Kemiskinan turun dari 5,42 persen (2024) menjadi 5,31 persen (2025), jauh di bawah rata-rata nasional 8,25 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 312,30 ribu jiwa, meskipun garis kemiskinan naik 6,40 persen akibat kenaikan harga pangan.
Baca Juga : Ramadan Momentum Pembentukan Karakter dan Kepedulian Sosial
Daya beli tetap terjaga, pengeluaran riil per kapita tumbuh 2,76 persen menjadi Rp12,04 juta per tahun. Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 5,69 persen menjadi 5,52 persen, dengan kualitas pekerjaan yang membaik. Distribusi pendapatan makin merata—Gini Ratio turun dari 0,287 menjadi 0,280, lebih baik dari rata-rata nasional 0,363.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pun meningkat dari 76,43 menjadi 77,27, menjadikannya perangkat enam terbaik nasional dan di atas rata-rata nasional. Artinya, di tengah krisis, stabilitas sosial berhasil dijaga.Tahun pertama Mahyeldi-Vasko memang bukan fase ekspansi agresif, melainkan fase konsolidasi dan stabilisasi. Sebuah strategi rasional ketika daerah berada dalam tekanan berat.
Pengalaman panjang Mahyeldi dalam manajemen krisis sejak gempa 2009 hingga banjir tahunan saat memimpin Kota Padang, jelas telah membentuk karakter kepemimpinan yang tenang, sistematis, dan berbasis koordinasi.
Sementara Vasko, hadir dengan energi dan jejaring nasional yang kuat. Di lapangan, publik menyaksikan kepemimpinan tanpa jarak, dengan semangat muda, Vasko turun langsung ke lumpur, menyapa pengungsi, memobilisasi bantuan, dan menghadirkan empati nyata. Jejaring nasionalnya pun mempercepat dukungan pusat dan relawan. Jika Mahyeldi membawa stabilitas struktural. Maka energi muda Vasko membawa daya dorong lapangan. Dua karakter ini saling melengkapi di tengah badai.
Di balik stabilitas sosial, tekanan fiskal daerah sangat nyata. Kerusakan jalan, jembatan, sekolah, fasilitas kesehatan, irigasi, dan permukiman akibat Bencana menuntut rehabilitasi segera. Sementara ruang fiskal terbatas dan dana transfer pusat mengalami pengurangan.
Pemprov bergerak cepat menyusun dokumen rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis data terverifikasi agar sinkron dengan standar kementerian teknis. Ini langkah strategis agar dukungan anggaran pusat dapat segera direalisasikan. Pemulihan tidak bisa sentralistik. Skema kolaboratif antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi kunci agar rehabilitasi mempercepat perputaran ekonomi lokal, menyerap tenaga kerja, dan menggerakkan UMKM.





