PASBAR, HANTARAN.Co — Kabupaten Pasaman Barat resmi menancapkan taringnya dalam upaya penyelamatan lingkungan sekaligus pengembangan ekonomi kreatif berbasis digital. Bupati Yulianto meresmikan Kick-off, Product Launching, dan Sosialisasi Biochar Digital Limbah yang dipusatkan di lokasi penyulingan nilam Jorong Bandarejo, Nagari Lingkuang Aua Bandarejo, Selasa (24/2).
Langkah ini menandai babak baru bagi pertanian lokal. Pasalnya, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai, seperti tongkol jagung, kulit kakao, ampas nilam, hingga eceng gondok. Kini disulap menjadi Biochar atau arang hayati yang bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional.
Baca juga : Hilirisasi Mineral Dorong Indonesia Naik Kelas di Rantai Global
Bupati Yulianto menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar urusan pertanian konvensional, melainkan sebuah terobosan teknologi yang disebut sebagai Soil Charger. Teknologi ini mampu menangkap dan menyimpan emisi CO2 dalam jangka panjang guna memperbaiki kualitas tanah.
“Ini adalah terobosan besar. Kita tidak hanya bicara soal pertanian, tapi soal tanggung jawab moral memperbaiki iklim dunia. Pemerintah daerah mendukung penuh sinergi ini karena berdampak langsung pada pengurangan efek rumah kaca,” ujar Bupati Yulianto di hadapan para pejabat dan tokoh masyarakat yang hadir.
Koperasi Hidup Basamo Sepakat
Program ini merupakan hasil sinergi strategis antara perusahaan asal Malaysia, Reclimate Sdn. Bhd, dengan Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat. Kolaborasi ini mengacu pada Peraturan Presiden terkait Nilai Ekonomi Karbon (NEK) guna mengejar target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.
Sementara itu, Manajer Operasional Koperasi Hidup Basamo Sepakat, Fitra Jaya, menjelaskan bahwa proyek ini telah terafiliasi dengan organisasi karbon internasional ternama seperti Gold Standard dan Verra.
“Limbah yang awalnya dibuang, kini menjadi komoditas ekspor berupa carbon credit. Keunggulannya pun ganda; selain mendatangkan pendapatan baru, ini meningkatkan kesuburan tanah petani lokal secara berkelanjutan,” jelas Fitra.
Implementasi teknologi Biochar di Pasaman Barat ini selaras dengan target Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 43,2% pada tahun 2030 melalui kolaborasi internasional. Dengan peluncuran ini, Pasaman Barat memposisikan diri sebagai salah satu daerah di Sumatera Barat yang serius menggarap potensi Pasar Karbon Nasional.
Bupati menutup sambutannya dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif.
“Mari kita manfaatkan teknologi ini dengan betul. Pasaman Barat siap berkontribusi bagi dunia, dimulai dari pemanfaatan limbah di ladang kita sendiri,” pungkasnya. (h/os)





