“Kami terpaksa menunda rekomendasi bagi 11 pengembang perumahan karena suplai air belum mencukupi. Kami mengusulkan rehabilitasi jaringan, pembangunan instalasi pengolahan air di Limbukan, serta pembangunan reservoir baru,” ujarnya.
Pada sektor ekonomi, Pemko mengungkap peluang kerja sama dengan perusahaan The Sak Bali yang siap menyerap produk dari 1.000 pengrajin rajut dan anyaman. Saat ini kapasitas pengrajin di Payakumbuh baru sekitar 400 orang.
“Ini peluang emas bagi UMKM kita. Kami membuka kerja sama dengan pengrajin dari daerah sekitar dan berharap provinsi memfasilitasi hilirisasi produk handycraft agar mampu menembus pasar ekspor,” katanya.
Pemko juga meminta dukungan peningkatan kualitas lulusan SLTA agar lebih banyak diterima di perguruan tinggi unggulan, serta fasilitasi penuntasan tapal batas dan peralihan aset antara Pemko Payakumbuh dan Pemkab Lima Puluh Kota.
Menanggapi berbagai usulan tersebut, Gubernur Mahyeldi menegaskan tahun 2026 harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Sumatera Barat setelah menghadapi berbagai tekanan pada 2025.
“Tantangan 2025 adalah wake up call bagi kita semua. Tahun 2026 harus menjadi langkah awal transisi dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju industri olahan, digital, dan berwawasan lingkungan. Target pertumbuhan 5,7 persen bukan mustahil jika transformasi kita mulai hari ini,” ucapnya.
Mahyeldi memaparkan empat strategi utama, yakni hilirisasi agroindustri, transformasi pariwisata dan ekonomi hijau, akselerasi digitalisasi UMKM, serta penguatan mitigasi bencana sebagai bagian dari investasi ekonomi.
Ia menekankan percepatan perbaikan jalur vital distribusi seperti Sitinjau Lauik dan Lembah Anai, dorongan asuransi pertanian secara masif, serta pembangunan pengendali banjir di sentra produksi sebagai langkah konkret menjaga ketahanan ekonomi daerah.
“Kita harus bergerak bersama, agar 2026 menjadi awal kebangkitan ekonomi Sumbar,” tutuynya. (*)





