BeritaEkonomi

Pakar Ekonomi : Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional

2
×

Pakar Ekonomi : Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional

Sebarkan artikel ini
Ekonomi
Pakar Ekonomi : Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional. IRHAM

PADANG, HANTARAN.Co – Sejumlah pakar ekonomi mengatakan kondisi perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel akan turut berdampak pada Indonesia.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menyebut setidaknya tiga kanal utama akan terdampak secara tidak langsung.

“Kalau kita bicara eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat, maka dampaknya ke Indonesia secara tidak langsung lewat tiga kanal utama, yakni energi, keuangan global, dan perdagangan,” ujarnya, Minggu (1/3).

Baca juga : Rumah Putih Competition 2026 Ditabuh, Camat Ampek Nagari: Semoga Jadi Agenda Tahunan

Baca Juga  Kepala Daerah Terpilih Diminta Segera Susun KLHS

Ia menambahkan Indonesia memang bukan pihak dalam konflik, tetapi RI menjadi bagian dari sistem ekonomi global yang saling terhubung.

Pertama, jalur energi. Dimana setiap ketegangan di Timur Tengah hampir pasti mendorong harga minyak dunia naik karena pasar mengantisipasi gangguan suplai.

“Jika harga minyak melonjak signifikan, APBN kita tertekan karena subsidi energi berpotensi membengkak. Di sisi lain, inflasi bisa terdorong naik, terutama dari komponen transportasi dan pangan (karena biaya distribusi ikut naik). Ini yang paling cepat dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Calon Gubernur Sumbar H Epyardi Asda Hadiri Syukuran Ade Sudarman Anwar sebagai Pimpinan DPRD Dharmasraya

Kedua, jalur pasar keuangan. Dalam situasi perang, investor global cenderung mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.

Pakar Ekonomi : Satu Rudal di Timur Tengah

“Dampaknya, nilai tukar rupiah bisa tertekan dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika rupiah melemah tajam, biaya impor naik dan dunia usaha yang punya utang valas ikut tertekan,” tuturnya.

Bank Indonesia biasanya akan merespons dengan stabilisasi kurs dan kebijakan moneter yang lebih hati-hati.

Ketiga, perdagangan dan sentimen global.