Ia menyikapinya dengan tenang. “Itu juga bagian dari kebaikan. Kita jalani dengan ikhlas,” tuturnya.
Di situlah Ramadan menemukan relevansinya: menyeimbangkan ibadah personal dengan tanggung jawab sosial.
Mengelola Sepi, Merawat Silaturahmi
Ramadan kali ini ia jalani berdua bersama istri. Anak dan cucu telah memiliki kehidupan masing-masing. Rasa sepi tentu ada, terutama saat sahur dan berbuka. Namun, ia mengatasinya dengan memperluas makna keluarga. Kerabat dan sahabat diundang berbuka bersama.
Lingkungan masjid menjadi ruang silaturahmi. Dengan begitu, rumah tetap hidup, dan Ramadan tetap terasa hangat. Mulai dari takjilan bersama, hadiri kultum jelang tarawih, hingga menyiapkan dan menyalurkan paket sembako dari infaq dan zakat jamaah kepada mustahiq di lingkungan RW nya jelang Idul Fitri.
Ia mencontohkan bagaimana spiritualitas tidak berhenti pada relasi vertikal, tetapi juga diperkuat oleh jejaring sosial. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kebersamaan dan kemakmuran warga.
Tradisi, Identitas, dan Syukur
Sebagai putra Minangkabau yang kuat adat dan syaraknya, Ramadan juga sarat tradisi. Sehari menjelang puasa, keluarga melakukan “merendang”—memasak rendang khas keluarga. Hari pertama puasa, hidangan itu menjadi simbol syukur dan kebersamaan sekaligus pengobat rindu kampung nan jauh di mata.
Menu berbuka sederhana namun sarat makna: tiga butir kurma dan teh manis hangat. Sesekali, teh talua—minuman khas Minangkabau—hadir di akhir pekan sebagai nostalgia kampung halaman.
Tradisi seperti itu, bagi Prof. Djo, bukan sekadar soal rasa. Ia adalah pengikat identitas dan pengingat akar budaya sebagai orang Minang.
Hikmah yang Menyejukkan
Dari kisah-kisahnya, Ramadan tampak bukan hanya sebagai bulan ibadah individual, melainkan momentum merawat keseimbangan: antara tugas publik dan keluarga, antara tradisi dan modernitas, antara aktivitas dan kontemplasi.
Dalam usianya yang matang, Prof. Djohermansyah memperlihatkan bahwa pengabdian tidak berhenti saat jabatan selesai. Ia hanya berubah bentuk sesuai pepatah “old pamong never die, they just fade away”.
Ramadan menjadi pengingat bahwa rahmat Allah hadir dalam kelahiran anak pertamanya, kesempatan beribadah, keluarga yang sederhana, hingga panggilan berbagi ilmu di tengah malam.
Sejuk, bijak, dan membumi—itulah Ramadan yang ia jalani. Bukan Ramadan yang hiruk-pikuk, melainkan Ramadan yang hening namun produktif. Sebuah teladan bahwa spiritualitas sejati justru menemukan maknanya dalam keseharian yang dijalani dengan ikhlas dan tanggung jawab sang Begawan Otonomi Daerah ini. (h/sfr)





