Berita

Djohermansyah Djohan Memaknai Bulan Suci Ramadan

6
×

Djohermansyah Djohan Memaknai Bulan Suci Ramadan

Sebarkan artikel ini
Djo
Djohermansyah Djohan Memaknai Bulan Suci Ramadan. ist

JAKARTA, HANTARAN.Co – Bulan Ramadan bagi Prof. Djohermansyah Djohan bukan sekadar ritual tahunan. Ia memaknainya sebagai ruang rahmat, jeda refleksi, dan ladang pengabdian yang tak pernah selesai.

Senin (2/3/2026), guru besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (UPDN) itu berbagi pengalaman spiritual yang sederhana, hangat, dan membumi.

Ramadan, ujarnya, adalah bulan ketika rahmat dikucurkan, ampunan dibukakan, pembebasan dari azab yang pedih, dan di bulan 1000 bulan itu manusia diberi kesempatan memperbarui diri menaikkan kelas ketaqwaannya.

Pengalaman paling membekas baginya terjadi pada Juli 1980, ketika di hari keempat puasa ia dikaruniai anak pertama. “Itu rahmat terbesar dalam hidup saya,” kenangnya.

Baca Juga  Ali Yusuf Akan Dimakamkan di Samping Sang Ibunda

Baca juga : Pakar Ekonomi : Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional

Ramadan, bagi Prof. Djo -begitu dia akrab disapa- bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga penanda perjalanan hidup yang penuh syukur. Ia juga mengingat pengalaman spiritual lain: beribadah di Tanah Suci pada bulan Ramadan dan berkesempatan mencium Hajarul Aswad.

Bagi seorang akademisi dan mantan birokrat, pengalaman itu bukan sekadar capaian religius, melainkan pengingat bahwa jabatan dan peran publik tetap harus mengacu pada posisi kita sebagai hamba, insan kamil.

Ramadan Setelah Purnatugas

Sebagai mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (2010–2014), Ramadan ketika masih aktif di birokrasi tentu berbeda. Dahulu, ia harus berpacu dengan waktu, terjebak kemacetan Jakarta menjelang berbuka, bahkan kerap berbuka di perjalanan.

Baca Juga  Polres Pasbar Launching One Day One Khatam Al Qur'an Implementasi arahan Kapolda Sumbar Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA

Djohermansyah Djohan Memaknai

Kini, sebagai akademisi senior yang telah purna tugas struktural, ia lebih leluasa mengatur ritme.
Subuh dimulai dengan mengaji. Siang hingga sore diisi aktivitas akademik dan melayani diskusi publik. Malam hari diupayakan tetap untuk keluarga dan tarawih berjamaah di masjid dekat rumah.

Namun purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Isu-isu pemerintahan daerah tetap membuatnya dicari media. Bahkan di tengah tarawih pun, panggilan diskusi publik bisa datang.