Jakarta, hantaran.Co–Pemerintah terus memperkuat ekosistem pembangunan perumahan rakyat melalui program gentengisasi untuk mendorong pertumbuhan industri bahan bangunan berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam program ini, dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan menjadi instrumen penting untuk memperkuat kapasitas produksi pelaku usaha genteng lokal.
Baca Juga : 2 Bentor akan Kelilingi Kota Padang, Ada Apa?
Program gentengisasi yang mulai dijalankan di Jawa Barat menjadi langkah awal pemerintah dalam meningkatkan kualitas rumah rakyat, khususnya pada rumah subsidi dan rumah yang mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan penggunaan material atap yang lebih berkualitas sekaligus memberdayakan sentra industri genteng lokal sebagai bagian dari rantai pasok sektor perumahan nasional.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait dalam rilis diterima media ini, Rabu (4/3/2026) menegaskan bahwa program gentengisasi bukan sekadar program bantuan, melainkan strategi pembangunan yang mendorong kualitas hunian sekaligus pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan UMKM menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program tersebut. “Program ini bukan charity. Ini program kualitas dan keberlanjutan. UMKM harus naik kelas, industrinya kuat, dan rumah rakyat tidak panas. Kita ingin multiplier effect-nya terasa. Masyarakat senang, industri tumbuh,” ujar Maruarar Sirait.
Sebagai tahap awal, pemerintah menetapkan harga genteng sebesar sekitar Rp4.300 per unit hingga lokasi proyek untuk wilayah Jawa Barat. Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan kepastian pasar bagi produsen genteng lokal. Bahkan, salah satu pengembang telah menyatakan komitmen transaksi awal senilai sekitar Rp12,6 miliar sebagai bagian dari implementasi awal program tersebut.





