Jakarta, hantaran.co–Insiden keamanan kembali terjadi di perairan strategis Selat Hormuz. Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech melaporkan kapal penarik (tug boat) berbendera Uni Emirat Arab (UEA), Mussafah 2, terkena dua rudal.
Peristiwa itu terjadi saat kapal yang ditumpangi sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) berusaha memberikan bantuan kepada kapal kontainer Safeen Prestige yang sebelumnya dilaporkan mengalami kendala hingga terdampar di perairan tersebut.
Baca Juga : Perang Amerika-Iran Buat Harga Tiket Pesawat Naik, Kok Bisa?
Serangan tersebut mengakibatkan sejumlah korban, termasuk (WNI) yang berada di atas kapal. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perlindungan WNI dan KBRI setempat telah mengambil langkah cepat untuk menangani para korban.
Pengamat Hukum Internasional dari Rajawali Cendikia Research Center sekaligus Dosen STIH Adhyaksa Muhammad Arbani mengatakan, pemerintah harus mengambil sikap tegas atas kejadian di Selat Hormuz tersebut.
“Jika benar kapal tersebut menjadi sasaran rudal dari pihak yang sedang berkonflik, maka pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri perlu menunjukkan sikap tegas atas serangan yang menimpa para WNI, meskipun kapal yang mereka tumpangi berbendera negara lain,” katanya dalam pernyataan resmi, Minggu (8/3/2026).
Situasi di Selat Hormuz Sangat Tegang
Berdasarkan laporan sementara, terdapat empat WNI mengalami luka-luka, sementara tiga WNI lainnya masih dinyatakan hilang. Proses pencarian korban disebut tidak mudah karena kondisi keamanan di sekitar Selat Hormuz saat ini dinilai sangat tegang.
Dia menambahkan, pemerintah Indonesia juga perlu melakukan identifikasi secara menyeluruh terkait penyebab ledakan yang terjadi pada kapal tersebut.





