Sedang gini rasio yang rendah pada saat pertumbuhan ekonomi, menurut Werry,
mengindikasikan Sumatera Barat sedang menghadapi “pemerataan kemiskinan”, bukan pemerataan kesejahteraan.
Agar keluar dari perlambatan pertumbuhan ekonomi yang rendah atau melambat, Ekonomi senior Unand ini merekomendasikan Sumatera Barat harus melakukan transformasi dan menyusun roadmap transformasi, paling tidak dalam bidang pertanian, pariwisata, pengembangan UMKM dan kelembagaan.
Jalan Tol Kebutuhan
Seiring paparan Werry, Sekretaris Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumbar Adratus Setiawan setuju PE Sumbar perlu digenjot. Untuk menggerakkan perekonomian Sumbar, jalan tol adalah sebuah kebutuhan.
“Pascabencana Sumbar, banyak pihak sadar, jalan tol adalah sebuah kebutuhan. Pemerintah kini sedang menyiapkan kelanjutan jalan tol Sicincin-Padangpanjang-Bukittinggi. Diperkirakan selesai 2031, atau paling cepat 2029 jika semuanya lancar,” kata Adratus.
Menanggapi perlambatan ekonomi Sumbar dan pembangunan jalan tol yang lamban, Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar Dt. Nan Sati mengajak ICMI dan semua pihak untuk berkolaborasi mendorong dan menguatkan pemerintah.
Mantan Ketua Kadin Sumbar Asnawi Bahar mengingatkan solusi yang ditawarkan pakar ekonomi dan banyak tokoh lainnya di Sumbar untuk kemajuan daerah, agar didengar dan ditindaklanjuti oleh pemerintah.
”Jangan hanya direspons dengan senyum-senyum saja, tapi tidak ada perubahan,” kata Asnawi Bahar.
Diskusi terbatas untuk perbaikan Sumbar dipandu Sekretaris ICMI Sumbar Prof Ganefri. Merujuk topik diskusi yang penting dan mendasar untuk kemajuan Sumbar, wartawan senior Hasril Chaniago mengusulkan ICMI Sumbar untuk menyiapkan pertemuan yang lebih mendalam dan komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan di daerah ini.
Silaturahmi dan diskusi ICMI Sumbar yang dihadiri Pembina H Guspardi Gaus, Rektor UNP Krismadinata, Rektor Unand Efa Yonnedi, dan Rektor Meta Media Yossyafra ditutup dengan buka bersama. (*)





